Saturday, March 24, 2007

Cerpen Version

uhm...as a beginning, Kistan bakal nyeritain pengalaman Kistan maen kartu di kelas.
kejadiannya pas kelas XI doeloe...
ceritanya dalam bentuk cerpen yah...
kenapa bentuknya cerpen?
karena sebenernya ini tuh tugas BI...
but I'll post it anyway...
here is the story: *silent please*
CUS…!!!
Siang ini langit cerah banget. Bener-bener bertolak belakang dengan suasanahati anak-anak kelas XI-G. Terlihat muka-muka yang kusut mengerut kayak badut digigit semut, bahkan ada yang sedang tertidur pulas (Oh My God…!!! How can he sleep in a place like this?!). Beberapa murid berusaha mengusir rasa kantuk dengan senjata yang paling ampuh, senjata itu adalah: ngobrol. Gara-garanya siang ini mereka “dipaksa” mengikuti pelajaran Sejarah yang sangat membosankan hingga dua jam ke depan.
But God still loves all of us…Di tengah-tengah ceramah Pak Dede (bukan nama sebenarnya, melainkan hanya nama samaran), bunyi ringtone yang berasal dari handphone guru favorit di SMANSA, memecah kesunyian di kelas dalam sekejap. Ia pun menghentikan omongannya dan membaca pesan di handphone-nya dengan raut wajah yang serius. Anak-anak kelas pun berdebar-debar menanti akan adanya kemungkinan dikumandangkannya kabar gembira dari mulut Pak Dede. Ia memasukkan handphone beserta buku-bukunya ke dalam tas. Sekarang ia terlihat kebingungan.
“Bapak harus pergi sekarang, sebagai gantinya kerjakan Latihan 2 di LKS kalian, dan kumpulkan ke meja Bapak. Lalu…”, belom sempet Pak Dede lanjutin omongannya, eh, anak-anak keburu mulai cengar-cengir kayak orang gila. Kontan aja si Bapak jadi ketakutan.
“Ya udah deh, Asalamulekum…Sutomo (See U Tommorow) anak-anak.” Ujarnya dengan langkah terburu-buru.
“Waa’laikum salam………!!!!!!!!!!” ujar murid-muridnya dengan semangat yang menggebu-gebu. Mereka pun memanjatkan puji syukur tiada hentinya kepada Sang Pencipta (Bukan kepada Mama Lauren ato Madam Sahara).
Tugas yang telah diberikan oleh Pak Dede pun diabaikan oleh mereka semua. Hal ini sudah menjadi kebiasaan dan tradisi di kelas ini. Tugas kelas selalu dijadikan PR oleh mereka seenaknya (good idea!).
Kelas yang tadinya sunyi menjadi ramai oleh anak-anak kelas yang melakukan aktivitasnya dengan semangat. Ada yang ngobrol, nyanyi sambil gigitaran, main gim di HP, dan ada pula yang mengerjakan tugas dari Pak Dede (What the heck?! Are they nuts? Harusnya kejadian langka kayak gini dipake buat hal-hal yang berguna…bukan ngerjain tugas…hehehe).Di pojok belakang kelas itu, terlihat sekelompok anak sedang happy-happy-nya bermain kartu. Sekelompok anak itu terdiri dari Yansen, Botak, Roamink, Gerald, dan Kistan.Mereka sedang dengan asyiknya memainkan permainan kartu yang populer dengan istilah “poker”. Kistan hanya mengamati keempat temannya bermain dengan muka yang serius, berharap dapat mencuri ilmu dari teman-temannya karena ia belum begitu mahir memainkan permainan itu. Maklum, karena dia anak yang rajin solat dan rajin menabung (so?), jadi Kistan tidak tau-menau soal permainan itu.Permainan pun dimulai dengan seru.
“Nih…2 keriting…”, ujar Gerald memulai permainan ini.
“Ku aing lawan yeuh…nih 5 tempe…!” ujar Roamink dengan santainya.
“Cus…” kata Yansen dengan lemas.
“6 tempe…!!” Botak pun berteriak dengan semangat 45 seraya melempar kartunya.
“Shit…” kini giliran Gerald yang mati langkah, “lanjut aja!”
Keempat makhluk langka ini mulai bermain curang saking frustasinya.Wajah mereka tampak ragu-ragu.
Tampang mereka terlihat serius seperti pada saat sedang mengerjakan soal-soal ujian yang sangat sulit.
Kistan melihat keadaan kelas. Terlihat mereka yang masih saja ngomongin si Kistan. Ada pula yang sedang berusaha menyelesaikan tugas dalam keramaian yang sedang terjadi. Terdengar pula suara Benjo yang mengalun keras, entah ia sedang menyanyi, ato entah keselek, who knows… Sedangkan sisanya, nggak tau pada ngilang ke mana, Incredible.
“Gile…ni kelas ato Pasar Baru?” pikir si Kistan dalam hatinya.Ia pun menonton kembali big match yang sedang berlangsung sambil mengunyah permen karetnya.
“Cus”
“Lewat”
“Lanjut…”
“Arghhhh…Anj**g!!!”
Kata-kata tersebut sering diucapkan oleh para peserta poker. Bagi si Kistan, ucapan-ucapan tersebut sangat lah tidak mengenakkan untuk didengar oleh telinganya, yang konon katanya dibersiin tiap hari ama neneknya. Ia pun mulai bosan dan mulai berbaring di lantai yang beralaskan karpet.
Matanya terpejam.Baru saja memejamkan matanya, ia terganggu dengan teriakan oleh salah satu spesies langka yang bernama Roamink.
“Anj**g…!!! Aing eleh wae…Kis, maen tah” ujarnya sembari memberikan kartu-kartunya kepada Kistan.
Roamink pun menghilang dalam keramaianKistan yang memang tidak mengerti apa-apa tentang permainan itu mulai menanyakan berbagai macam hal. Pertanyaan-pertanyaannya pun dijawab secara asal oleh temannya, Yansen.
Sebenernya permainan ini simpel banget.
Tinggal kocok kartunya.
Bagiin kartunya
Susun kartunya.
Trus maen dah…
Kistan’s first game of poker dimulai secara resmi dengan dilemparnya kartu 2 keriting oleh Botak. Gilirannya pun tiba, kelas tiba-tiba menjadi sepi, bisikan anak-anak kelas pun terdengar secara sama-samar.
“I have a strange feeling about this situation”, bisik si Kistan kepada teman-temannya.
Yang lainnya hanya mengangguk pertanda setuju.Secara bersamaan, mereka menoleh ke sebelah kiri secara perlahan tapi pasti. Terlihat sosok seorang wanita berjilbab dan berpakaian rapi. Pakaiannya berwarna biru muda.
Alangkah kagetnya ketika sekelompok pemain poker itu ketika menyadari bahwa sosok yang sedang mereka lihat adalah guru Sosiologi mereka (Damn!).
“Run Away…Lari!!!” kalimat tersebut langsung dipraktekan oleh mereka semua, namun sayang eh sayang si Botak ditahan oleh si “Ibu”. Yang lainnya sukses bersembunyi ato kembali ke tempatnya dan pura-pura ngerjain tugas. Kabur pun sia-sia, tetap saja mereka tertangkap dan dituduh berjudi (padahal kan nggak judi, maennya just for fun kok….swear deh…).
Anak-anak kelas menertawakan mereka serta tingkah laku mereka saat berusaha kabur.
“Brengsek anak-anak”, ujar si Kistan kepada yang lainnya, ia kesal karena mereka tidak diperingati saat si “Ibu” masuk.Eniwei…there’s always an experience or lesson that you can earn from each mistake you’ve done…
“Fiuh…”

No comments: